Generasi Cemerlang Lahir dari Peradaban yang Gemilang

Oleh : Tawati/Muslimah Revowriter Majalengka

MAJALENGKA. JARRAKPOSJABAR.COM- Kegiatan perpeloncoan pramuka yang digelar pelajar SMAN 1 Ciamis berjuluk lingkaran setan. Dalam kegiatan ini peserta diminta berbaris melingkar dan masing-masing harus saling memukul.

Akibat perpeloncoan dengan cara kekerasan dengan alasan pelatihan basis dan menguji kekuatan ini, 18 siswa luka-luka lebam di wajah dan bibir pecah. Bahkan tiga dari 18 siswa yang menjadi korban mengalami trauma psikis sehingga takut ke sekolah seperti dilansir via iNews.jabar.id pada Jum’at (14/1/2022) lalu.

Dunia pendidikan hari ini memang sudah nampak begitu bermasalah. Kita dapati dalam sistem pendidikan sekuler yang diterapkan hari ini, generasi hanya mengandalkan otot sebagai tanda kekuatan yang dapat dibanggakan, akhirnya banyak terjadi perpeloncoan di sekolah.

Fakta hari ini pun, tak sedikit generasi terdidik yang mumpuni dalam pengetahuan, namun minus dalam adab dan kesopanan. Bahkan laku alay, hedonisme, pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba, plagiarism, dan semacamnya, seolah lekat dengan kehidupan sebagian milenial.

Maka, bagaimana kita bisa berharap pada generasi yang tidak memahami moral dan adab? Generasi seperti ini sulit untuk menjadi motor kebangkitan dan membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan. Di sisi lain, tidak sedikit generasi yang malah enjoy menjadi kaum pembebek, yang terbiasa berpikir pendek. Tak peduli dengan nasib umat di masa depan.

Generasi seperti ini sudah dapat diterka tidak akan memiliki ketahanan ideologis. Mereka akan mudah kehilangan jati diri. Sistem pendidikan sekuler disinyalir telah menggerogoti keimanan dan identitas generasi.


Banner Iklan Sariksa

Adapun, hal ini membuktikan bahwa pendidikan sekuler kapitalisme yang diterapkan belum mampu mewujudkan generasi cemerlang.


Banner Iklan Sariksa

Berbeda dengan sistem pendidikan sekulerisme, sistem pendidikan Islam tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia. Yakni dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab).

Akidah inilah yang menjadikan kehidupan ini tak hanya bersifat profan. Tapi punya dua dimensi yang satu sama lain saling menguatkan. Yakni dimensi keduniawian dan keakhiratan. Maka dalam konteks sistem pendidikan, akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk pembangun peradaban cemerlang.

Visi inilah yang kemudian diturunkan dalam kurikulum pendidikan Islam di setiap tingkatannya, berikut metode pembelajarannya. Yang dalam penerapannya di-support penuh oleh negara dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Termasuk para pendidik yang punya kapasitas dan kapabilitas mumpuni.

Bahkan support negara sedemikian maksimal. Hingga para guru, para ilmuwan dan peneliti diapresiasi dengan gaji dan insentif yang tinggi. Begitupun dengan para siswanya. Merekapun diberi fasilitas serba gratis, yang membuat mereka benar-benar fokus dalam tugasnya masing-masing. Baik sebagai pendidik dan arsitek generasi, maupun sebagai pembelajar yang siap berkhidmat untuk umat saatnya nanti.

Kondisi ideal ini sangat niscaya. Karena sistem pendidikan Islam didukung oleh sistem-sistem lain yang menjamin tercapainya visi pendidikan. Yang terutama adalah penerapan sistem politik Islam, yang menetapkan bahwa negara atau penguasa adalah pengurus dan penjaga umat. Negara yang akan menerapkan seluruh aturan Islam, dipastikan akan mensupport penuh sistem pendidikan Islam.

Misalnya sistem ekonomi dan keuangan Islam, yang salah satunya mengatur soal kepemilikan. Bahwa sumber daya alam yang ada merupakan milik umat. Dan negara wajib mengelolanya untuk kemaslahatan umat.

Bahkan ada sumber-sumber keuangan lain yang ditetapkan oleh syariat, yang membuat negara memiliki dana nyaris tak berbatas untuk mensejahterakan rakyatnya. Termasuk mensupport sistem pendidikan gratis lagi berkualitas bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.

Support system pun datang dari penerapan sistem lainnya, seperti sistem sosial Islam, sistem informasi dan kemedia-masaan Islam, serta sistem sanksi Islam yang menjamin tujuan pendidikan terealisasi dengan maksimal.

Sehingga institusi pendidikan, negara, keluarga, dan masyarakat berjalan beriringan dalam mewujudkan dan menjaga generasi cemerlang. Bukan malah saling merobohkan sebagaimana terjadi dalam sistem sekarang.

Inilah rahasia di balik tegaknya peradaban Islam yang demikian gemilang. Belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai umat terbaik dan menjadi trensetter dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari aspek pemikiran, sains, teknologi, seni, budaya dan sebagainya.

Bahkan saat itu, sistem pendidikan Islam yang disupport oleh penerapan syariah kaffah, mampu tampil sebagai mercusuar kebangkitan pemikiran di dunia Barat. Padahal kala itu Barat sedang diliputi kejahiliyahan akibat dominasi kejumudan dan doktrinasi agama yang menjauhkan umat dari tradisi berpikir cemerlang.

Justru saat umat Islam terlepas dari sistem pendidikan Islam, sejalan dengan lepasnya umat dari sistem pemerintahan Islam sebagai penerap aturan Islam kaffah, pelan tapi pasti umat terjauhkan dari kemuliaannya. Bahkan hari ini, umat tengah jatuh hingga level terendah sebagai bangsa-bangsa terjajah.

Maka, agar bisa bangkit kembali, sudah saatnya umat kembali ke pangkuan Islam. Lalu menerapkan seluruh aturannya yang memuliakan, termasuk sistem pendidikan Islam, agar lahir generasi cerdas yang menorehkan prestasi cemerlang untuk masa depan gemilang. Wallahu a’lam bishshawab.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: