Selain Kasus Seksual Terhadap Anak Meningkat, Kejati Jabar Soroti Korupsi Di BUMN Menjadi Trend Baru Di Jabar

BANDUNG, Jarrakposjabar.com Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat memaparkan beberapa jumlah kasus yang meningkat khususnya di wilayah Jabar, Hal itupun tidak lepas dari kasus kekerasaan seksual terhadap anak dan kasus korupsi selama 2021.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana mengatakan dari Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang masuk ke Kejati Jabar meningkat bahkan di atas 60 persennya adalah kekerasan seskual terhadap anak.

BACA JUGA: Ditahun 2021, BNNP Jabar Berhasil Menangkap 2 Jaringan Sindikat Berskala Nasional

“Kenaikan ini cukup signifikan, perkaranya bukan hanya melanggar KUHP baik pasal 284, 287 saja, tetapi juga termasuk perdagangan anak,” kata Asep di kantor Kejati Jabar, Jumat, 31 Desember 2021.

Menurut Asep, Dari hasil evaluasi dan penjajakan yang dilakukan oleh pihak Pidana Umum (Pidum) Kejati Jabar, kebanyakan pelaku kekerasan seskual ini umumnya adalah yang mengenal korban.

“Biasanya para pelaku pencabulan sudah mengenal dan dekat dengan korban yang berada dilingkungannya,”jelasnya.

BACA JUGA: Deklarasi Relawan Kebangsaan, Asep Komarudin Sebut Ridwan Kamil Tokoh Terbaik Jabar Yang Pantas Pimpin Indonesia

Selain itu, Asep menambahkan, dikarenakan kasus ini menjadi sorotan dan meningkat  tinggi pada 2021. Pihak Kejati Jabar akan memperbanyak jaksa-jaksa spesialis anak di dalam internalnya.

“Nanti Kejati Jabar akan memperbanyak diklat-diklat atau short course, training, FGD, untuk masalah ini,” ucap Asep.

Selanjutnya, selain kasus pencabulan terhadap anak meningkat, Iapun menuturkan dimana sepanjang 2021 ini bidang pidana khusus Kejati Jabar sudah berhasil mengusut 55 perkara tindak pidana korupsi  terutama didlingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di wilayah jawa barat.

BACA JUGA: BREAKING NEWS. Polda Jabar Naikan Kasus Dugaan Ujaran Kebencian Bahar bin Smith Kepenyidikan

Asep menegaskan,  ada beberapa kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) di BUMN yang saat ini ditangani oleh penyidik Kejati Jabar diantaranya yakni kasus PT Posfin hingga kasus korupsi gula di PT. PG Rajawali II Cirebon Jawa Barat.

“Seperti misalnya terkait kasus perkara Posfin, enam orang sudah ditetapkan sebagai tersangka bahkan nilai kerugian cukup besar hingga 52 miliar. Kemudian di pabrik gula juga potensi kerugian mencapai 50 miliar,” ujarnya.

Terakhir, Asep menilai kasus korupsi sudah menjadi trend maka dari itu Kejati Jabar akan menyiapkan langkah inovasi baru dalam penegakan hukum.

BACA JUGA: Pimpinan Ponpes Tahfiz Al-Ikhlas Dibandung Cabuli 12 Santriwati, Ridwan Kamil Langsung Murka

” Kita akan menyiapkan Inovasi baru mulai dari penyiapan sarana dan prasarana pendukung, seperti penggunaan teknologi digital hingga menggunakan metode corruption impact,”ungkapnya.

Editor: Deni Supriatna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: