Praktisi Hukum LQ Sentil Ditjenpas, Jhon Kelly: Tidak Ada Alasan Kemenkumham Menunda Keputusan MA Atas PP 99 Tahun 2012 Pasal 34 A

JAKARTA, Jarrakposjabar.com Mahkamah Agung (MA) mencabut dan membatalkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012, atau yang dikenal dengan PP Pengetatan Remisi Koruptor. Dalam PP 99 itu, koruptor bisa mendapatkan remisi dengan syarat lebih ketat dibandingkan dengan narapidana lainnya.

Ketua  LQ Indonesia Lawfirm advokat Alvin Lim, SH, MSc, CFP, CLA  menyoroti masih belumnya dilaksanakan keputusan MA tersebut, khususnya oleh pihak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Ditjen Pas Kemenkumham).

BACA JUGA: Kemenkumham Dianggap Ciut Tak Bernyali Saat Putusan Pencabutan Beberapa Pasal Di PP 99/2012 Dikabulkan MA

“Saya bukannya membenarkan perbuatan para koruptor, namun sejatinya ketika divonis di pengadilan, majelis hakim sudah memberikan vonis yang menurut pengadilan putusan yang tepat, sehingga dengan dihilangkan haknya lagi untuk mendapatkan remisi oleh peraturan pemerintah merupakan hal yang salah dan melawan hukum,” ujar Ketua Pengurus dan Pendiri LQ Indonesia Law Firm Alvin Lim, Jumat (19/11/2021).

Menurut Alvin, apabila hukuman koruptor dianggap terlalu ringan, maka hakim atau lembaga yudikatif yang bertugas memperberat vonis.

Bukannya menjadi kewenangan dari pemerintah atau lembaga eksekutif, melalui penerbitan PP 99.


Banner Iklan Sariksa

“Apabila sudah ada putusan dari MA selaku pengadilan tertinggi maka semua wajib menghormati dan melaksanakan putusan tersebut seketika setalah dibacakan dan berlaku saat itu,” tuturnya.


Banner Iklan Sariksa

BACA JUGA: MA Cabut PP 99 Tentang Remisi Napi, LSM Jarrak Jhon Kelly Sebut Kemenkumham Tak Bernyali Dan Ragu Ambil Tindakan

“Dalam teori hukum trias politika, sudah sangat jelas tugas masing-masing badan eksekutif, legislatif dan yudikatif,” imbuh Alvin.

Ditjen Pas Kemenkumham melalui Kabag Humas dan Protokolnya, Rika Aprianti sebelumnya mengatakan pihaknya akan tetap mengikuti perkembangan dari putusan MA tersebut.

Ditjen PAS berjanji akan melaksanakan putusan dan memberikan hak-hak narapidana sebagaimana aturan tersebut.

Meski begitu, menurut LQ hingga kini Ditjen Pas belum melaksanakan putusan MA. Padahal, kata Alvin, putusan tersebut berlaku seketika saat dibacakan majelis hakim. Terlebih, tidak ada upaya hukum lanjutan atas judicial review atau uji materi tersebut.

“Jadi tindakan Ditjen Pas yang menunda-nunda hak konstitusional warga binaan merupakan perbuatan melawan hukum,” ujarnya.

“Apakah alasan Ditjen Pas sudah 22 hari setelah menerima putusan judicial review, masih belum juga mematuhi isi putusan MA RI No 28P/HUM/2021? Tidak boleh ditunda-tunda putusan MA wajib segera ditaati, karena ini menyangkut hak konstitusional dan hak asasi manusia yang mendasar,” lanjut Alvin.

Ia pun mengimbau agar para warga binaan kasus tindak pidana korupsi yang masih belum mendapatkan remisi, agar keluarganya bisa menghubungi LQ Indonesia Law Firm di nomor 0818-0489-0999. Sehingga bisa dibantu untuk memperoleh haknya.

Sebab, kata Alvin, kesengajaan untuk tidak memberikan hak warga negara sesuai undang-undang adalah perbuatan melawan hukum, yang diatur dalam Pasal 421 KUHP, yaitu penyalahgunaan wewenang dan diancam pidana kurungan.

Apalagi, PP No 99 tahun 2012 tentang perubahan atas PP No 32 tahun 1999 sebelumnya, dipandang dibuat secara sembrono dan tidak mempertimbangkan dasar hukum lain yaitu UU Permasyarakatan.

BACA JUGA: Sentil Keras Moeldoko, AHY: Menghasut Dengan Cara Pamer Kekuasaan Sebagai KSP

“Jangan sampai para pejabat negara dalam hal ini Dirjen Pas justru malah melakukan perbuatan melawan hukum. Apa pun isi putusan pengadilan, apalagi MA yang sudah inkrah, jika kita langgar dan abaikan, apa bedanya Dirjen Pas dengan para pelaku kejahatan jika seperti itu?,” tandas mantan Vice President Bank of America ini.

Sementara itu, Direktur LSM Jarrak, Jhon Kelly Nahadin mengatakan sebagai kementrian yang membidangi hukum sangatlah diperlukan keseriusan dalam mempedomani putusan Mahkamah Agung (MA) yang telah final dan mengikat ke semua warga Negara.

“Sangatlah berbahaya bagi ketatanegaraan kita seandainya Kemenkumham ragu-ragu mengambil langkah hanya karena tekanan pihak -pihak yang tidak berkopenten dan tidak memahami aturan hukum yang berlaku bagi semua pihak,” kata Jhon Kelly saat memberikan keteran kepada tim jarrakposjabar.com. Jumat 19 November 2021.

Jhon Kelly menilai bahwa pepercayaan publik kepada Kementerian yang dipimpin Yassona akan turun ketika Jajarannya hanya diam tidak melakukan langkah apapun. Setiap pro kontra dalam menyikapi aturan merupakan dinamika masyarakat Demokrasi adalah hal yang biasa, namun bukan justru menghilangkan ketegasan dari Fungsi Pemerintah itu sendiri.

“Demi nilai keadilan dan Hak asasi Manusia, Tidak ada alasan Kemenkumham menunda keputusan MA atas PP 99 Tahun 2012 Pasal 34 A,” ungkapnya.

BACA JUGA: Eks Politisi Senior Partai Demokrat Max Sopacua Tutup Usia, AHY Ajak Keluarga Besar PD Kirim Doa

Terakhir, kata Jhon, Pemerintah harus berjalan berdasarkan aturan hukum, sangat ironis ketika masih ada keraguan dalam mengambil kebijakan tatkala sudah ada aturan hukum yang jelas.

“Banyak pihak menilai bahwa Putusan MA tentang PP 99/2012 dapat menjadi alternatif peyelesaian over capacity dalam Lapas dan Rutan yang telah terbukti menimbulkan berbagai masalah,”paparnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: