Puluhan Petani Penggarap Protes karena Perilaku Aparat Desa Babadan Arogan.

Indramayu.Jarrakposjabar.com. Puluhan Petani Penggarap lahan Carik desa Babadan Kecamatan Sindang Jum’at (29/10/21) mendatangi Kantor Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu untuk mengadukan nasib mereka yang tidak boleh menggarap tanah Carik desa Babadan oleh aparat desa Banadan atas perintah Kepala desa Babadan terpilih Sugeng.

Menurut perwakilan petani penggarap Sarta mengatakan ,” bahwa dirinya bersama sama para petani penggarap tanah Carik desa Babadan mengikuti lelang resmi tanah Carik desa Babadan yang dilakukan secara resmi oleh Pj Kuwu desa Babadan dan disaksikan oleh Camat Sindang(Ali Sukma JM), Kapolsek Sindang(AKP Saeful) dan Danramil Sindang (Kapten.Inf Sudiyanto) yang bertempat dibalai desa Babadan secara Terbuka adapun luas areal tanah Carik yang dilelang untuk petani penggarap seluas 40 bau atau kurang lebih 23 hektar dan kalau dinominalkan sebesar Rp. 467.000.000, untuk 1 tahun atau 2 musim garapan.

Akan tetapi tadi pagi ada aparat desa yaitu Raksa bumi dan Lurah tiba tiba datang kesawah atau tempat garapan dan meminta semua petani penggarap tanah carik menghentikan pengelolaan tanah garapan, karena apabila terus dilakukan maka” urusannya berbeda”. Atas dasar tersebut para petani pemggarap mendatangi camat Sindang untuk meminta perlindungan dan penjelasan, karena apa yang para petani penggarap lakukan tidak melanggar hukum dan ada bukti bukti yang sah,dan kami minta keadilan,kejelasan dari kasus tersebut,”tegasnya.

Sementara itu Camat Sindang Ali Sukma JM ketika dimintai keterangan mengatakan,” bahwa masalah lahan garapan Carik desa Babadan sudah ditangani oleh pihak Inspektorat Indramayu, Kecamatan hanya sebagai kordinasi saja bukan penguasa wilayah, maka para perwakilan Petani penggarap ini saya bawa untuk menghadap inspektorat, jadi nanti pihak Inspektorat yang memutuskannya,” papar camat Ali Sukma.

Bukan rahasia umum lagi setiap kepala desa di Indramayu dalam satu priode tidak dapat menikmati atau melelang tanah carik didesanya, karena itu sudah menjadi hak kuwu sebelumnya, jadi kita harus bersama sama mematuhi proses hukum dan tatanan yang ada bukan unjuk kekuatan apalagi dengan cara arogan mengintimidasi petani untuk menghentikan proses pengelolaan tanah carik garapannya, toh semua proses lelang tanah carik babadan sudah dilakukan sesuai dengan mekanisme aturan yang berlaku dan terbuka.

Tidak semestinya siapapun pemegang kekuasaan di desa berlaku arogan demi menunjukkan kekuasaan dan kepentingan sesaat toh yang menjadi petani penggarapnya adalah warga masyarakat desa Babadan.


Banner Iklan Sariksa

 


Banner Iklan Sariksa

Walaupun mereka berasal dari pendukung yang berbeda, jangan jadikan perbedaan, menjadi alasan untuk kita mengintimidasi warga, jadi berbuatlah dengan keputusan yang bijak sebagai seorang aparat desa, rakyat bukan untuk dijadikan dendam dan permainan penguasa tetapi rakyat sebagai ladang amal dan pengabdian penguasa.

Penguasa tanpa rakyat akan binasa, rakyat tanpa penguasa akan merana.

 

 

Sumber : Jarrakpos Official
Laporan : Wahyu Jarrak Pos Indramayu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: