BeritaDaerah

Warga Nahdhatul Ulama (NU) Indramayu Tidak Terima Dengan Komentar Bupati Nina Agustina.

Indramayu.Jarrakposjabar.com. Mulutmu harimau mu, mungkin itulah sepenggal ucapan yang tepat untuk seorang pemimpin kaliber bupati, semestinya jangan sembarangan menerima laporan dari anak buah, kemudian tanpa berfikir panjang melontarkan kalimat yang berbau kontroversi di depan publik ataupun medsos.

Warga Nahdhatul Ulama (NU) bagai tersambar petir ditengah bolong Sabtu(01/0421) dengan beredarnya vidio di medsos yang berisi ucapan Bupati Indramayu Nina Agustina yang sangat menyingung perasaan warga Nahdiyin terhadap Ketua PCNU Indramayu H.Juhadi Muhamad SH.

Dalam video durasi 2.02 menit bupati Indramayu Nina Agustina mengatakan kalimat yang mengandung kebencian dan provokasi yaitu: Nina menanyakan, “Saya mau ngobrol sama orang siapa yang menyuruh memblokir jalan itu? Dijawab oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup(Aep Surahman) “haji Juhadi bu”kemudian dilanjutkan bupati Nina” Ee…ini ya Provokatornya,”

Karena kekecewaan dan kemarahan warga Nahdiyin serta mencegah hal hal yang tidak di inginkan pada malam minggu bertempat di kantor PCNU Indramayu diadakan rapat dengan agenda membahas vidio yang beredar di medsos,serta mendengarkan penjelasan dari Ketua PCNU dengan menghadirkan saksi para petambak dari desa Lamaran tarung kecamatan Cantigi dan pernyataan sikap warga NU sendiri.

Rapat tersebut dihadiri jajaran pengurus PCNU, pengurus MWCNU, Ketua lembaga dan Banom NU, perwakilan Kompi dan para petani tambak desa Lamaran tarung.

Dalam keterangannya Ketua PCNU Indramayu H.Juhadi Muhamad SH menjelaskan”, dirinya hanya diminta bantuan oleh masyarakat tambak desa Lamaran Tarung untuk menjadi mediator dengan Pertamina yang diduga telah melakukan pencemaran di pesisir desa Lamaran tarung yang bertempat di Hotel Wiwi Perkasa beberapa minggu yang lalu.

Tetapi dalam mediasi itu deckloc dan akhirnya kita semua walk out meninggalkan pertemuan itu kemudian saya melihat kelapangan dan mendampingi warga saat menggelar unjuk rasa.” Entah dari mana datangnya serta atas dasar apa kemudian bupati Nina menuduh saya sebagai Provokator dalam gelar aksi tersebut,” tegasnya.

Ketika mendengar dan melihat kiriman video tersebut, lalu saya kirimkan video tersebut ke bu Nina Agustina, kemudian beliau menelpon saya dan berbincang bincang via telepon,bu Nina tidak mengakui perkataan Provokator tersebut, lalu saya bilang coba ibu lihat kembali video itu,tetapi perbincangan semakin tidak mengenakkan serta tak tentu arahnya, kemudian bu Nina menutup telepon tanpa ada ucapan permintaan maaf padanya sama sekali” lanjut H.Juhadi.

Sementara itu Asep salah seorang perwakilan petambak desa Lamarantarung menjelaskan,” Bupati datang ke desa Lamarantarung pada hari Selasa dan bertemu dengan para petani tambak, namun dalam pertemuan itu bupati berkata keras kepada petambak bahwa dirinya mengetahui siapa dalang di balik semua ini dan para petambak yang berdemo dikasih uang 25 – 35 ribu.

Hal ini jelas jelas tuduhan yang menyakitkan masyarakat, karena kenyataannya di lapangan hal itu tidak benar, “tegasnya.

Setelah mendengarkan penjelas akhirnya para pengurus PCNU mengambil sikap dengan meminta kepada bupati Nina Agustina menjelaskan pernyataannya secara terbuka dan meminta maaf kepada ketua PCNU dan warga NU secara terbuka, selain itu warga nahdiyin juga mengirrimkaan utusan untuk menyampaiikan tuntutan kepaada Bupati Indramayu,surat yang ditanda tangani. Oleh ketua GP Anshor Edi Fauzi.

NU berkewajiban untuk mengontrol jalannya pemerintahan, siapapun yang menjadi pemimpinnya,baik pusat maupun daerah disitulah NU akan hadir sebagai bentuk pengamdian pada bangsa dan negara seperti yang di amanatkan para pendiri Nahdatul Ulama,” tegas Sekertaris PCNU Yahya Ansori.

Bila berkaca dari proses akar permasalahannya sebetulnya masing masing pihak jangan menonjolkan arogansinya, karena akan lebih baik satu sama lain tidak memberikan statment pada permasalahan yang belum jelas akar permasalahannya.

Lebih baik kita duduk bersama dan dibicarakan dengan hati yang lapang jangan sampai jadi tontonan masyarakat kita butuh pemimpin yang bisa dijadikan panutan bukan pemimpin yang dijadikan tontonan, karena bagai mana mungkin pembangunan daerah akan berhasil kalau para pemimpin sendiri lebih menonjolkan egosentris masing masing.

Marilah kita rangkul putra daerah Indramayu ini untuk mengejar ketertinggalan, lupakan perbedaan, jangan ada dendam diantara kita karena rakyat Indramayu sudah bosan, cape dan lelah dengan semua reatrika politik negeri ini!!.

 

Sumber : Jarrakpos Official
Laporan : Wahyu Jarrak Pos

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: