Ike Srilopita Nurdianti (Foto : AS)

Covid generation atau kita lebih sering menyebutnya dengan generasi corona/covid.  Ungkapan itu menjadi tidak asing, sering tersematkan kepada mereka yang lulus pada masa pandemic. Mereka yang melanjutkan ke perguruan tinggi berharap akan mendapatkan hal yang belum didapatnya dari waktu sebelumnya. Dan benar kita mendapatkannya. Siklus baru kehidupan mahasiswa di tengah pandemic; dosen memberi materi maupun tugas, mahasiswa senantiasa menjawab baik pak/bu, terima kasih, kelas selesai. dan itu terus bergulir sampai semester selanjutnya. Oh iya pastinya dengan bayaran setiap semester yang masih normal seolah tidak terjadi apapun dan baik-baik saja. Tapi, ada sebagian yang mendapatkan kompensasi dan tentunya dengan syarat-syarat tertentu. Walaupun yang terkena dampak tidak mengenal siapa dan dimana,

Dalam perhitungan normal masa mahasiswa tepatnya S1 akan bergulir selama 4 tahun, tapi rasanya mungkin hanya tersisa 3 tahun. 1 tahun pertama anggaplah untuk pengenalan apa itu zoom? Apa itu google meet? Dua media yang awalnya asing tapi sekarang senantiasa menemani keseharian proses pembelajaran. Jika dikataka,  pembelajaran online sangatlah kurang efektif, dimana banyak kendala seperti yang paling sering adalah kendala sinyal. Karena setiap mahasiswa ataupun dosen tidak selalu menetap di tempat yang memiliki sinyal yang kuat. Bahkan ada yang sampai pergi ke laut untuk mencari sinyal karena ada pemadaman secara serentak pada saat berlangsungnya pembelajaran. Lalu bagaimana dengan materi yang disampaikan? Apakah para mahasiswa memahaminya? Atau hanya sekedar menjadi daftar materi saat ulangan berlangsung?

Tapi, selain hal di atas ada yang lebih absurd, dan dirasa cukup unik. Sejauh menyandang predikat mahasiswa baru selama satu semester dan menginjak semester dua masalah cyrcle pertemanan. Kata teman biasanya yang pertama kali terlintas adalah orang yang saling mengenal, setidaknya tahu dengan siapa ia berinteraksi. Tapi, teman  disini dalam artian mungkin hanya sebagai predikat teman satu kelas, atau mungkin hanya anggapan teman satu absen tanpa pernah tahu bagaimana rupa, dan dia yang sebenarnya.

Rasanya jika suatu saat pembelajaran offline terealisasikan, pertama kali masuk kampus, pertama kali memasuki kelas dan saling bertemu mungkin yang pertama kali diucapkan bukan menanyakan kabar, atau hanya sekedar say “hallo” tapi,  “kamu siapa?” Unik bukan.

Yang asyik bertemu di chat, yang pernah 1 tugas kelompok tapi apalah itu, kita hanya orang asing dikehidupan nyata. Suatu saat nanti akan ada masanya untuk diceritakan dengan gelak tawa seolah kondisi seperti ini tidak pernah terjadi, tapi nyatanya kita menjalaninya dan berhasil melewatinya. Tak apa perjalanan kita sedikit berbeda dari kebanyakan orang, tapi darinya kita belajar, keterbatasan bukan penghalang untuk tidak berjuang, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Nyatanya dengan keterbatasan itu kita mampu mengoptimalkan, melihat peluang kecil sekalipun, dan bisa dijadikan kesempatan.

*Penulis :

Ike Srilopita Nurdianti (Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here