BeritaDaerah

SMP N 1 Lelea Ingin Mencapai Mutu Lulusan Terbaik

Indramayu. Jarrakposjabar.com. Setiap daerah pasti mempunyai keinginan untuk menaikkan standar IPM (Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index) salah satu faktornya adalah pendidikan yang ditempuh oleh warga masyarakatnya.

Namun hal itu tidaklah mudah bagai kita membalikkan telapak tangan, perlu kerja keras, waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Perlu peran serta segenap komponen masyarakat, kita tidak bisa menggantungkan pada upaya pemerintah pusat dan provinsi dalam menyokong percepatan pembangunan pendidikan.

Akan menjadi omong kosong kalau kita bertumpu pada satu stokholder dalam membantu kecerdasan penerus bangsa ini, perlu peran serta dari semua pemangku kebijakan serta peran serta masyarakat untuk mewujudkan itu semua.

SMP N 1 Lelea yang merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama di kecamatan Lelea ingin memberikan kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kini di tuntut untuk berevolusi menjadi sekolah yang mutu kelulusannya sangat baik dan bisa bersaing dengan sekolah sekolah lainnya yang ada di Ibu kota Kabupaten Indramayu yang akhirnya dapat mencetak generasi yang unggul, bersaing, berinofasi serta berakhlak mulia.

Menurut Kepala Sekolah SMP N 1 Lelea Warmadi yang di temui di sekolah mengatakan ,” SMP N 1 Lelea memiliki murid kurang lebih 836 siswa/ i mulai dari kelas 7,8 dan 9

Dimasa pandemi sekarang ini seperti sekolah yang lain pada umumnya melakukan pembelajaran daring dimana setiap guru memberikan pembelajaran dan tugas kepada siswa, di sekolah ini terdapat 47 orang guru terdiri dari 25 PNS dan 22 honorer sedangkan jumlah staf tata usaha 17 orang dimana PNS 4 orang sisanya 13 orang honorer.

Untuk upah mengajar dibayar Rp. 28.000,- per jam tanpa uang transport. Di sekolah ini juga di adakan tabungan yang sifatnya tidak ditentukan besar dan kecilnya uang yang ditabung.

Adapun maksud diadakan tabungan adalah sebagai dana talangan jika siswa ada yang dibeli ataupun untuk keperluan selama proses belajar mengajar bahkan ada pula yang di kala ada anggota keluarga dari siswa tersebut sakit dan membutuhkan dana maka tabungan tersebut boleh diambil di sini tidak ada penahanan ataupun pelarangan kepada siswa untuk mengambil tabungan sepanjang pengambilan uang tersebut diketahui oleh orang tua siswa tersebut.

Jadi sekali lagi tidak ada unsur paksaan dalam hal tabungan, karena di Lelea ini kan masyarakat yang mata pencahariannya petani jadi tidak mungkin setiap bulannya dapat uang, untuk menyiasatinya maka saya bersama komite sekolah membentuk tabungan tersebut.

Masih menurut kepala sekolah Warmadi ,”SMP N 1 Lelea juga mempunyai prestasi non akademik yang tidak kalah dengan sekolah lain, ada Marcinband, atletik, karate, putsal, dan bola voly pasir walaupun masih sekup kabupaten Indramayu.

Khusus Marcinband selalu menjadi juara disetiap lomba bahkan sering di minta tampil pada pagelaran budaya masyarakat,” ujarnya.

Sementara menurut salah seorang guru BP/BK Deden Syarifudin mengatakan,” bahwa penanganan manegerial yang diterapkan oleh kepala sekolah kepada stafnya sangat terbuka, kekeluargaan dan selalu disiplin pada setiap warga sekolah.

Menyinggung tentang penanganan siswa menurut Deden dilakukan dengan cara pendekatan baik itu dengan pihak orang tua, guru serta pihak komite sekolah selalu dilibatkan, serta penanganannya bukan bersifat justifikasi atau pembenaran permasalahan tetapi lebih di tekankan pada akar permasalahan serta solusi pemecahan.

Karena perlu di ingat siswa itu aset berharga sebagai generasi penerus bangsa, jadi kita harus melakukan home visit ke rumah rumah siswa yang bermasalah, hasilnya bisa di lihat secara presentase siswa yang drop out hanya di bawah 1% saja ini membuktikan semua komponen sekolah ini bekerja sama dan bahu membahu dalam menangani setiap masalah yang timbul,”tuturnya.

Bila kita mau jujur pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang di dukung oleh peran serta masyarakat selaku orang tua dalam rangka mensport segala macam kebutuhan sekolah bukan semata mata kewajiban pemerintah semata.

Karena pada hakekatnya penyenggaraan pendidikan bukan tanggungjawab pemerintah pusat, provinsi semata tapi masyarakat juga dilibatkan sebagai penopang dana pendidikan tentunya.

Penggunaan dana tersebut diawasi bersama bukan keberadaannya sekolah dengan sistim kepemimpinan kepala sekolahnya selalui di obok obok oleh urusan yang tidak jelas, oleh segelintir oknum yang selalu mengatas namakan sekolah itu gratis menurut peraturan president, coba di baca dan di telaah lebih lanjut gratisnya di mana?

Sedangkan orang pengen buang air kecil di wc umum saja bayar bos, jadi berhentilah kita semua dengan paradigma pemerintah telah mengucurkan dana Bos untuk pendidikan gratis sedangkan buku, pinsil, seragam dan tetek bengeknya mesti di beli jadi gratisnya dalam hal apa, gimana dan bagai mana?

Ini jadi kajian dan renungan kita bersama demi masa depan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia!!!! Wahyu Jarrak Pos Indramayu.

 

Sumber : Jarrakpos Jabar
Editor : Kurnia
Pewarta : Wahyu Jarrakpos

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: