Indramayu.Jarrakposjabar.com. Indonesia menempati rengking ke-4 dunia dan juara kedua(2) di Asia Tenggara dalam hal balita Stunting.

Hal tersebut diutarakan anggota DPR RI dari komisi IX Netty Prasetiyani Aher yang juga kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Jawa Barat saat acara”Silaturahim tokoh penggerak pembangunan keluarga, yang di hadiri ketua dan pengurus PKS dari kota cirebon dan Indramayu yang bertempat di Kuningan sabtu(19/12/20).

Dalam sambutannya Netty Prasetiyani Aher mengatakan:” Angka prevalensi stunting di Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan WHO.Butuh kerja keras dan keseriusan untuk menekannya.

Pemerintah harus mengevaluasi pembangunan keluarga karena hulu persoalannya ada disana, bagaimana bisa kita mencetak SDM yang unggul jika permasalahan Stunting masih menghantui calon generasi bangsa.

Oleh karena itu pemerintah harus hadir, dari riset Kesehatan dasar Kementrian Kesehatan tahun 2019 mencatat sebanyak 6,3 juta balita dari populasi 23 juta atau 27,7% balita di Indonesia menderita stunting ,jumlah ini masih sangat jauh dari nilai standar yang ditetapkan WHO yang seharusnya di bawah 20%.

Oleh karena itu Netty meminta pemerintah memberikan otoritas yang lebih besar pada BKKBN untuk menjadi leading sektor pengentasan stunting ini.

BKKBN harus diberikan wewenang yang lebih luas dalam membangun keluarga Indonesia yang berketahanan, yang mampu atasi dan mencegah stunting sejak dini.

Negara harus memberikan jaminan dan perlindungan agar keluarga Indonesia mampu tumbuh dan berkembang secara normal, termasuk dalam hal akses terhadap asupan gizi dan pelayanan kesehatan, sehingga memiliki ketahanan dalam menghadapi kerentanan.

Ketahanan keluarga menjadi faktor utama terwujudnya ketahanan nasional” tegasnya.Kegiatan ini sendiri bertujuan membangun komitmen bersama mengatasi dan mencegah stunting di ikuti oleh 50 orang perwakilan tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda dari kota Cirebon, kabupaten Cirebon dan Indramayu.

Menurut Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Kusmana berpesan”‘agar para tokoh masyarakat menjadi pelopor gerakan pembangunan keluarga agar terbangun generasi dan keluarga yang berkualitas.

“Saya mengajak para tokoh masyarakat dan tokoh agama agar membantu pemerintah mensosialisasikan perencanaan dalam keluarga.Hindari pantangan 4 terlalu untuk mencegah resiko kehamilan yaitu: terlalu tua, terlalu muda, terlalu rapat, atau terlalu sering,” ujarnya.

Sementara itu Deputi KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN , Eni Gustari mengingatkan,” pentingnya masa emas 1000 hari pertama kehidupan.”Kita harus memastikan bahwa dalam 1000 hari pertama kelahiran, bayi mendapatkan asupan gizi, perawatan dan kasih sayang yang memadai sehingga tumbuh berkembang dengan baik dan terhindar dari stunting ,”ungkapnya.

Memang tanggungjawab yang menimpa bangsa ini dalam segala hal bukan dipikul oleh pemerintah semata tetapi peran dari semua pihak agar permasalahan stunting ini bisa di hindari merupakan tanggungjawab kita semua.

Akan tetapi pada kenyataannya pemerintah harus selalu hadir ditengah tengah himpitan kehidupan rakyat bukan hanya sebagai penonton ataupun pendengar setia tetapi bertindak secara nyata ditengah problematika kehidupan sosial masyarakat demi menuju kehidupan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. (Wahyu Jarrak Pos Indramayu)

Sumber : Jarrakpos News
Editor : Kurnia
Pewarta : Wahyu Jarrakpos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here