Rab. Sep 30th, 2020

Jarrak POS

Bersama Membangun Bangsa

Sejarawan Unpad : Pengulangan Sejarah Akan Selalu Terjadi ; Tapak Tilas Madraisme

9 min read

Kuningan, Jarrakposjabar.com – (Kamis, 06/08/2020) Meski proses mediasi dan rekonsiliasi sedang berjalan antara Pemda Kuningan dan Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan  Cigugur, riak riak gelombang opini silang pendapat masih terasa.

Gugatan sejarah tentang aliran kepercayaan dan keberadaan Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan  Cigugur, Kuningan bergema menjadi wacana dan obolan di kalangan elit kabupaten Kuningan. Banyak pihak yang mengeluarkan pernyataan pernyataan sesuai versi diketahuinya.

Menanggapi hal itu, Gumirat Barna Alam, Putra Pangeran Djatikusumah menanggapi dengan santai dan rileks serta berusaha tidak ingin terpancing dan mengomentari lebih jauh.

“Kan tidak serta merta Kepangeranan Gebang dibawa kesini, pasti ada tapak tilasnya. Termasuk beberapa peralatan pusaka, gamelan dll. Saya mau bicara fakta saja, dan tidak ada niatan sedikitpun, untuk bermusuhan dengan siapapun,  baik kepada saudara, kerabat dan masyarakat. Berbicara sejarah baiknya dengan fakta dan otentik agar tidak menjadi asumsi belaka “ Ucap Pria akrab disapa Rama Anom

Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran (Unpad),  Dr. Widyo Nugrahanto (Mas Anto) memberikan komentar saat dimintai keterangan via telpon oleh awak jarrakposjabar.com (Rabu malam, 05/082020).

Dr. Widyo Nugrahanto, Sejarawan FIB Univesitas Padjadjaran

Mas Anto meneliti sejak tahun 2008-2012 tentang Dinamika Aliran Kepercayaan Madrais Di Cigugur Kuningan periode 1885-2007 yang dijadikan riset Disertasi dengan mengkaji, melihat dan membaca langsung naskah dan manuskrip otentik terkait perjalanan dan gerakan Madrais di  3 lokasi di Belanda yaitu Kantor Arsip Kota Denhag, kantor KITLV kota Leiden, dan Perpustakaan Unviresitas Leiden. Dan Perpustakaan Nasional Jakarta.

“ Kajian penelitian (disertasi) saya tentang ini tebal sekali, tapi saya ringkas dalam tulisan. Polemik Paseban sekarang persis persis pengulangan sejarah masa lalu di waktu berbeda, terutama pengakuan keberadaan masyarakat AKUR “ Ucap Mas Anto

Mas Anto menjelaskan dengan singkat mengenai sejarah gerakan sosial Madrais yang berubah menjadi gerakan aliran kepercayaan yang terbagi antara lain Asal usul Madrais, Munculnya Gerakan Sosial Keagamaan Madrais di Cigugur saat koloni Belanda, Pembubaran Gerakan Sosial Madrais Pada Masa Pendudukan Jepang, Muncul sebagai Agama Djawa Sunda (ADS) jaman Orba, Muncul menjadi Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) jaman Orba dan Adat Karuhun Urang (AKUR) jaman reformasi.

Mas Anto menjelaskan Madrais lahir tahun 1832, anak dari Pangeran Gebang bernama Alibassa Koesoemawidjajaningrat dari Keraton Gebang yang menikah dengan Kastewi putri keturunan dari Tumenggung Jayadipura dari Lebakwangi. Hal ini tertulis dalam arsip surat dari Pangeran Keraton Kanoman Cirebon yang bernama Hoedajabrata pada 1 September 1922 yang dikirimkan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Pada saat Madrais lahir, Pangeran Alibassa telah meninggal dunia.

Sejak lahir hingga berusia 10 tahun Taswan atau Sadewa (nama Kecil Madrais ) hidup dan tinggal di Cigugur. Saat usia tersebut, ia dibesarkan oleh kakek dari ibunya di Lebakwangi. Disinilah diberi nama Muhammad Rais yang lalu akrabdisingkat menjadi Madrais. Ketika dewasa, Madrais mulai mengembara untuk belajar ke beberapa pesantren di sekitar Cirebon dan daerah lainnya.

Sejak tahun 1869 peristiwa kerusuhan Tambun, Bekasi, Madrais hidup berpindah pindah mengembara dari daerah ke daerah lain dengan menyembunyikan identitas diri. Ia mengembara ke pesantren-pesantren hingga sampai ke Jawa Timur. Madrais mengembara hingga ke Jawa Timur dengan memakai nama Gusti Ahmad.

“ Berdasarkan data otentik yang saya dapat di Belanda, Madrais bukan Muslim. Madrais masuk pesantren karena memang dulu yang ada hanya lembaga pendidikan ini, terpaksa masuk. Dan dia belum belum dikhitan (Sunat) ” Ungkap Mas Anto

Gedung Paseban Tri Panca Tunggal di Jl. Raya Cigugur sebagai pusat kegiatan Masyarakat AKUR

Fase Kedua tentang Munculnya Gerakan Sosial Madrais di Cigugur. Anto menjelaskan, Madrais menikah sekitar tahun1880-1885 menetap di rumah yang sekarang menjadi gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur. Pengikut Aliran Kepercayaan Madrais itu sudah terdapat di Cigugur sejak sekitar 1885, sesuai apa yang tertulis dalam arsip surat laporan R. Kern, seorang Penasehat Urusan Bumiputra kepada Gubernur Jenderal D. Fock pada 6 Oktober 1925.

Pandangan dan ajarannya tentang kebatinan menyebar ke luar Kuningan, sehingga bertambah banyak pengikut nya dan berkembang luas di Jawa Barat muncul denga gerakan Sosial Madrais berpusat di Cigugur. Tahun 1903 di Tasikmalaya, ditahan akibat perbuatan Badal yang melakukan pemeran terhadap pengikutnya. Lalu di tahan di Merauke, hingga dipulangkan kembali tahun 1908 untuk dirawat di RS Jiwa Bogor diduga menjadi gila. Di Rumah Sakit Jiwa itu ternyata Madrais dianggap waras oleh para dokter jiwa sehingga langsung diperbolehkan pulang kembali ke Cigugur.

Menurut Anto, pada 1925, Gerakan Sosial Madrais berubah dengan terbitnya buku Pikoekoehnja dari “Igama Djawa”(Djawa-Soenda-Pasoendan) yang diterbitkan Firma De Boer, lalu diterbitkan ulang oleh percetakan di Cirebon. buku tersebut berisi tentang ajaran dan pandangan Igama Djawa Sunda Pasundan. Pengikut madrais pun meminta kepada Bupati Kuningan M. Achmad melalui surat yang meminta perlindungan dan pengakuan terhadap agama yang mereka anut.

“ Permintaan beberapa pengikut Gerakan Sosial Madrais itu ditanggapi oleh Bupati Kuningan M. Achmad dengan memberi pernyataan bahwa perlindungan dan pengakuan itu tidak perlu diberikan secara khusus kepada ajaran-ajaran keagamaan Madrais sebab pada prinsipnya di negeri ini diakui kebebasan beragama dan setiap orang dari agama apapun diberi perlindungan. Lalu berdasarkan permintaan beberapa pengikut Gerakan Sosial Madrais itu, M. Achmad Bupati Kuningan mengirimkan surat kepada Residen Cirebon bernama RPM van der Meer  pada 15 Juni 1925.” Sebut Anto

Madrais meninggal pada 19 Sura 1872 Saka Sunda atau 1939 Masehi. Lalu digantikan oleh putranya Pangeran Tedjabuana saat berusia 47 tahun. Tedjabuana putra lelaki Madrais. Memiliki kakak perempuan bernama Ratoe Soekainten. Keduanya anak Madrais dari istrinya Siti Yamah. Saat Tedjabuana melanjutkan, posisi Igama Djawa-Soenda sudah diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Perkawinan para pengikut Gerakan Sosial Madrais telah diakui, proses pemakaman para pengikut Gerakan Sosial Madrais juga telah diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Buku panduan ajaran Madrais dan statutanya juga telah diterbitkan..

Lanjut Anto masuki Fase Ketiga, Pembubaran Gerakan Sosial Keagamaan Madrais Pada Masa Pendudukan Jepang. Menurut nya, Perubahan pemerintahan dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kepada Pemerintah Pendudukan Jepang di Indonesia telah berpengaruh besar pada masyarakat Indonesia saat itu termasuk Gerakan Madrais. Dan pembubaran Gerakan Sosial Madrais ini, karena keinginan untuk mendapatkan simpati dari kalangan Islam di Kabupaten Kuningan.

Tuduhan ajaran Madrais yang bunyinya Ngiblat Ka Ratu Raja adalah ajaran untuk bersetia pada Ratu Belanda yang bernama Ratu Juliana dan Ratu Wilhelmina. Hal ini telah menyebabkan masyarakat memiliki alasan untuk menuduh bahwa ajaran Madrais adalah bentukan Belanda dan Madrais adalah agen rahasia Belanda

Pelarangan terencanakan dilaksanakan pada awal 1944 Pemerintah Pendudukan Jepang meminta penghentian semua kegiatan para pengikut Gerakan Sosial Madrais di manapun berada. Akhirnya Tedjabuana mentaati permintaan Pemerintah Pendudukan Jepang itu. demi menyelamatkan para pengikut Gerakan Sosial Madrais

Kemudian Fase selanjutnya, Muncunya kembali Agama Djawa Sunda (ADS). Anto menjelaskan bahwa dengan kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, perubahan besar terjadi di Indonesia. menyebabkan munculnya perjuangan untuk menyebarkan berbagai ideologi di Indonesia. Euforia khususnya kalangan aliran kepercayaan atau kebatinan.

“ Tahun 1946 para pengikut Gerakan Sosial Madrais yang masih tersisa di Cigugur, 1946 meminta Tedjabuana untuk kembali ke Cigugur. Dukungan kuat dari mantan pengikut Gerakan Sosial Madrais di Cigugur Kuningan, Tasikmalaya dan Garut membuat Tedjabuana bersemangat untuk mendirikan kembali Igama Djawa Soenda Pasoendan. Akan tetapi, karena situasi yang belum memungkinkan, Tedjabuana masih berpindah-pindah tempat tinggal dari Tasikmalaya-Bandung pada periode 1945-1948 dan sesekali ke Garut, maka hal itu belum dapat diwujudkan.” Tambah Anto

Adanya Kongres Kebudayaan Indonesia ke-2 Pada 1948, yang meminta eksistensi bagi penghayat kebatinan atau aliran kepercayaan diakui pemerintah Indonesia. Sontak Tedjabuana pun mengumumkan berdirinya kembali Igama Djawa Soenda Pasoendan yang dirubah menjadi ADS (Agama Djawa-Sunda) di Cigugur pada September 1948. Kata Agama Djawa Sunda dipilih untuk nama organisasi pengikut Gerakan Sosial Madrais. Nama ini diambil dari mengadaptasi nama sebelumnya, yaitu Igama Djawa Soenda Pasoendan menjadi Agama Djawa Sunda.

Sejak itu Gerakan Sosial Madrais yang telah ada sejak akhir Abad ke-19, mulai terorganisasi secara rapi dan modern. Tahun 1960-an terjadi konflik di Cigugur antara kaum muslim dan para pengikut ADS (Agama Djawa Sunda). Konflik ini sebetulnya adalah dampak dari ketegangan politik di tingkat nasional. Ketegangan politik di tingkat nasional telah memanaskan situasi di tingkat lokal. Konflik-konflik massa pendukung Partai Komunis Indonesia dengan kalangan Islam terjadi dibeberapa tempat di Indonesia.

“ Terlebih Pemerintah Orde Lama ikut menekan keberadaan kaum pengikut ADS (Agama Djawa Sunda) karena dianggap tidak beragama dan hanya menjalankan ajaran-ajaran kebatinan. “ Anto menambahkan

Pangeran Djatikusumah Penerus Generasi Ketiga Tokoh Sunda Wiwitan berusia 85 tahun

Akibat dari tekanan dari berbagai pihak yang terjadi pada masa Orde Lama, pada 19 September 1964 Tedjabuana yang sedang sakit parah menyatakan diri kepada Gereja Kristen Katholik Paroki Cirebon. Lalu pada 21 September 1964 Tedjabuana membuat surat resmi yang ia tanda tangani untuk itu. Ini dilakukan teringat pesan ayahandanya yaitu Madrais seperti berikut: “Isuk jaga ning geto anjeun bakal ngiuhan di handapeun camara bodas anu bisa ngabeberes alam. Artinya kurang lebih suatu saat nanti kamu harus berteduh di bawah Pohon Cemara Putih yang bisa menyelesaikan keadaan alam”

Beberapa pengikut Aliran Kepercayaan Madrais kemudian merespon cepat surat itu dengan menyatakan diri mengikuti Tedjabuana memeluk Agama Kristen Katholik. Tafsir akan bisikan gaib ini sebetulnya berbeda-beda. Djatikusumah cucu Madrais menafsirkan kalimat itu sebagai berteduh sementara di cemara putih. Suatu saat jika badai telah reda, kembali keluar dari cemara putih. Sementara beberapa pengikutnya menafsirkan dengan berlindung selamanya di cemara putih.

“ Langkah berubah keyakinan ini berdampak  positif, menyelamatkan sebagian besar pengikut Agama Djawa Sunda dari pembantaian pengikut Partai Komunis Indonesia. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak para pengikut kebatinan yang dianggap sebagai Komunis dan dihukum mati pada sekitar 1965-1967. Sejak itu sebagian besar pengikut Agama Djawa Sunda berpindah agama menjadi pemeluk Agama Kristen Katholik. Sebagian kecilnya memeluk Agama Kristen Protestan dan Agama Islam.” Tutur Anto

Anto melanjutkan pada fase ini muncul nama PACKU (Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang) dan AKUR (Adat Karuhun Urang). Menurut mas Anto periode ini, Tedjabuana meninggal dunia usia 86 tahun pada tanggal 5 Maret 1978,  dimakamkan di dekat makam Madrais dan istri Tedjabuana bernama Siti Saodah. Sepeninggal Tedjabuana dilanjutkan oleh Djatikusumah sebagai pimpinan pengikut ajaran Madrais. Djatikusumah sebagai cucu dari Madrais dan secara tradisional mewarisi kepemimpinan para pengikut di Cigugur. Ia terpanggil menggerakkan kembali bekas Agama Djawa Sunda yang pernah ada.

Masa orde baru, situasi kondusif bagi penganut Madrais, maka muncul gerakan untuk menghidupkan Gerakan Sosial Madrais di Cigugur. Langkah pertama dengan menggelar penyelenggaraan Upacara Adat Seren Taun. Oleh karena itu, Djatikusumah dan para mantan pengikut Gerakan Sosial Madrais yang telah memeluk beberapa agama berencana untuk mengadakan upacara adat Seren Taun sebagai upacara adat warisan nenek moyang mereka.

Upacara adat Seren Taun adalah upacara adat yang dijalankan setiap tahun sekali pada 22 Rayagung tahun Saka Sunda oleh para pengikut Aliran Kepercayaan Madrais yang tergabung dalam ADS (Agama Djawa-Sunda). Sukses gelar Seren Taun itu tonggak awal munculnya kembali aktifitas pengikut Aliran Kepercayaan Madrais pada Masa Orde Baru di Cigugur.

Salah satu kegiatan Upacara Adat Seren Taun Masyarakat AKUR yang dilakukan saban tahun

Pada tahun 1980 Djatikusumah mendirikan organisasi bernama PACKU (Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang). PACKU diharapkan dapat menjadi suatu tempat berkumpul untuk kegiatan budaya, adat dan kesenian warisan leluhur masyarakat Cigugur.

Tidak ada tujuan negatif maupun politis selain untuk mempertahankan warisan leluhur masyarakat Cigugur dalam berkebudayaan dan berkesenian. Djatikusumah mendirikan PACKU karena menafsirkan ramalan Madrais secaras berbeda, yaitu berteduh adalah sementara tidak selamanya. Artinya suatu saat nanti harus keluar dari tempat berteduhnya yaitu keluar dai bawah cemara bodas atau cemara putih

Djatikusumah mendaftarkan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan  Direktorat Bina Hayat pada awal Maret 1981. Keluar nomer pengesahan sebagai aliran kepercayaan oleh Dirjen Bina Hayat dengan nomer 1.192/F.3/II.1/1981 tanggal 31 Maret 1981. Sejak itu PACKU (Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang) telah sah terdaftar sebagai aliran kepercayaan di Indonesia.

Lalu tanggal 11 Juli 1981 Djatikusumah cucu Madrais mengumumkan berdirinya PACKU (Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang). Dan tanggal 17 Juli 1981 PACKU bergabung dengan Badan Koordinasi Musyawarah Antar Pengikut Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, suatu organisasi underbow/bawahan Golkar (Golongan Karya).

Kepengurusan PACKU dibentuk oleh para pengikut aliran kepercayaan pada 23 Agustus 1981 dengan cara bermusyawarah di Gedung Tri Panca Tunggal. Yang menjadi pengurus pada organisasi PACKU ini merupakan orang-orang yang menyatakan kembali menjadi pengikut Aliran Kepercayaan Madrais pimpinan Djatikusumah.

Namun Pemerintah Orde Baru belum merestui penuh munculnya PACKU. Tanggal 25 Agustus 1982 Kejaksaan Tinggi Jawa Barat mengeluarkan SK No: KEP-44/K.2.3/8/1982 Tentang Pelarangan Terhadap Aliran Kepercayaan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU). Menurut SK Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, PACKU (Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang) adalah kelanjutan dari Agama Djawa Sunda atau Madraisme yang telah dilarang sejak 1964. Sejak itu maka PACKU dan seluruh kegiatannya dilarang oleh Pemerintah Jawa Barat. Pihak PACKU menerima surat itu dari seorang utusan Kejaksaan Negeri Kabupaten Kuningan pertengahan September 1982

“ Seremonial upacara adat Seren Taun  pada tahun tersebut dibubarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan. Sejak itu walaupun resmi terdaftar sebagai aliran kepercayaan di Indonesia, para pengikut tidak dapat melaksanakan kegiatan peribadatan mereka. Pemerintah Indonesia saat itu telah berlaku kontroversial pada PACKU yaitu mengakui sebagai aliran kepercayaan tapi melarang kegiatannya “ Jelas Anto

Orde Baru runtuh pada tahun 1998, pengikut aliran ini mendapat nafas kebebasan berekspresi lagi, para pengikut Aliran Kepercayaan Madrais kembali mengorganisir diri. Tahun 1999 mendirikan AKUR (Adat Karuhun Urang) yang merupakan komunitas adat untuk menjalankan kegiatan-kegiatan adat budaya mereka. Kegiatan adat budaya terbesar mereka adalah Upacara Seren Taun.

Upacara Seren Taun kemudian menjadi obyek pariwisata yang ditonton masyarakat banyak bahkan datang dari mancanegara.  Saat ini Seren Taun telah menjadi kegiatan rutin tahunan yang mendatangkan devisa bagi Kabupaten Kuningan. Diakui atau tidak, keberadaan para pengikut Aliran Kepercayaan Madrais yang tergabung dalam AKUR telah menguntungkan untuk mendatangkan pendapatan daerah bagi Kabupaten Kuningan saat pagelaran seren taun dilaksanakan. (AS)

Editor : LIe

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *