Rab. Sep 30th, 2020

Jarrak POS

Bersama Membangun Bangsa

Batu Satangtung ; Simbol Pengenalan Jati Diri

3 min read

Dalam ajaran warga penganut Sunda Wiwitan (ajaran Agama Leluhur Sunda sebelum Agama lain datang ke bumi Nusantara) hakikatnya bahwa kematian yang diharapkan adalah perpindahan (transisi) kehidupan dari Alam Buwana Panca Tengah atau Madyapada ke Buwana Luhur Atau Alam Langgeng Gahib /Suwung yang Suci.

Perpindahan itu dikenal dengan konsep “ngahyang” atau “kaleupasan” atau manunggaling kawula lan Gusti (menyatu dengan Dzat Maha Agung Sang Pencipta Alam Jagat Semesta) dalam agama Hindu dikenal moksa. Tetapi dalam prosesnya, hal tersebut (ngahyang) belum tentu semua orang bisa melakukannya.

Ira Indra Wardana. S.Sos. M.Si Foto : Dok. Sundaposonline

Tradisi kematian pengikut ajaran Sundawiwitan AKUR Cigugur dalam menyapih dan menguburkan orang meninggal dengan cara memakai peti kayu. Apakah kemudian peti kayu itu ditanam di dalam tanah atau dimasukan ke dalam “bong” tembok tergantung keluarga atau amanat jenasah semasa hidup.

Pada intinya pembuatan monumen peringatan atau kuburan sebagai wujud penghormatan manusia Sunda wiwitan AKUR Cigugur terhadap orang meninggal ( hal ini tentunya berbeda dengan Sunda Wiwitan di Kanekes yang tidak secara khusus membuat bangunan kuburan). Inilah salah satu perbedaan Sunda Wiwitan yang Tapa di Mandala (Kanekes) dengan Sunda Wiwitan yang Tapa di Nagara (AKUR Cigugur). Jenazah orang Sunda Wiwitan AKUR yang meninggal biasanya dipakaikan pakaian adat Sunda dalam peti kematiannya.

Mengenai proses pembangunan tempat “pasare’an” atau peristirahatan atau pemakaman sesepuh Adat AKUR Cigugur, yang dibuat di tanah milik sendiri, dan bahkan dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat berbeda keyakinan, hal ini menandakan dan sebagai pembuktian bahwa masyarakat Cigugur baik warga adat AKUR dan sekitarnya, sejatinya  adalah masyarakat yang toleran, baik toleran dalam siklus kehidupan kelahiran hingga siklus mempersiapkan bakal makam kematian.

Banyak bukti peradaban yang bisa kita lihat penggunaan batu sebagai simbol, seperti peradaban arkeologi Sunda di Situs Purbakala Cipari-Kuningan ditemukan peti kubur batu. Adapun bentuk makam Sesepuh AKUR yang menyerupai Menhir atau Batu Satangtung dalam tradisi arkeologi Sunda, sepertinya sesepuh Adat ingin memberikan pesan berupa simbol atau tanda pemahaman bagi warga adat Sunda wiwitan khususnya yaitu :

Pertama, dahulu kala leluhur Sunda adalah leluhur yang religius karena Menhir atau Batu Satangtung secara arkeologis memiliki makna simbol penghormatan terhadap Sang Maha Pencipta. Sehingga dengan demikian hakekat kehidupan ini harus dihayati dalam semua implementasi semua perilaku kita harus didasarkan karena dan untuk berbakti kepada Tuhan Sang Maha Pencipta jagat semesta.

Kedua bahwa Batu Satangtung merupakan simbol kekukuhan jati diri atau (tangtungan atau pamadegan dalam bahasa Sunda). Sehingga ornamen Batu Satangtung di atas bong kuburan sesepuh adat AKUR Sundawiwitan Cigugur menyiratkan makna bagi para pengikut dan keluarganya agar selalu ingat terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta, karena kehidupan kita akan kembali berpulang kepada-Nya, tidak ada kehidupan abadi di muka bumi ini. Oleh karenanya kita harus menatap bercermin pada “tanggungan diri” atau memiliki kesadaran jatidiri selaku pribadi manusia yang harus berperilaku dengan perikemanusiaannya.

Oleh karena itu, simbol Batu Satangtung di bakal makam itu memberikan pertanda “nasihat” khususnya warga pengikut ajaran Sunda wiwitan atau siapapun yang sepengertian bahwa dalam kehidupan di muka bumi ini kita diharapkan untuk selalu ingat akan “tangtungan” atau jatidiri kita sebagai manusia dan sebagai suatu bangsa yang harus mandiri dengan cara dan cirinya.

Karena salah satu prinsip dalam ajaran Agama Sunda wiwitan bahwa kita akan kembali manunggal dengan Sang Maha Pencipta jika kita sudah benar-benar “Wawuh Kana Tangtungan Diri” atau mengenal pada hakekat jatidirinya. Jika orang sudah mengenal jatidirinya maka sejatinya dia sudah menghayati hidupnya sebagaimana Tuhan menugaskan manusia hidup di muka bumi untuk ” Me’re’s mande’ ” atau mengelola, menata, dan memimpin kehidupan di muka bumi agar tercipta keharmonisan dan kedamaian semua makhluk dan alam ciptaan Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam. (AS)

Editor : LIe

 

More Stories

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *