Kam. Nov 26th, 2020

Jarrak POS

Bersama Membangun Bangsa

Rana : PDIP Mengawal Bupati Agar Sesuai Jalur, Okky : Tidak ada Titik Temu, Kami Cari Keadilan Ke Mahkamah Internasional  

3 min read

Kuningan,  Jarrakposjabar.com – (Sabtu, 01/08/2020) Kedatangan Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Bupati Kuningan, Wakil Bupati, Anggota DPRD Kab Kuningan Fraksi PDIP notabene para kader Parpol ke keluarga Paseban pada Kamis pagi (30/07/2020) lalu sebagai upaya rangkaian proses mencari titik temu solusi terbaik terkait polemik penyegelan bakal makam milik masyarakat AKUR Sunda Wiwitan.

Hal itu dibenarkan oleh salah satu fungsionaris PDIP Kuningan Rana Suparman. Rana menyatakan hadirnya kami hari ini ke keluarga Paseban untuk menyelesaikan persoalan sesuai dengan kebijakan ideologi garis partai. Menurutnya, langkah ini bukan intervensi ke Bupati dalam menjalankan kebijakan.

Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono dan Ketua DPC PDIP Kab Kuningan Acep Purnama yang juga Bupati Kuningan usai pertemuan dengan keluarga Paseban (Kamis, 30/07/2020)

Rana Suparman menjelaskan pengurus DPD dan DPC bertemu dengan keluarga Paseban, guna menyamakan sudut pandang, persepsi, frekuensi dan aspek historis untuk menjawab tantangan bangsa ini. Negeri ini ada karena ada leluhur kita yang membuat komunal, kekuatan, hingga terbentuk negara daulat merdeka yang kita nikmati. Jangan sampai kita yang sudah menikmati, tanpa sadar ikut memburamkan cara pandang founding father.

“ Seluruh kader PDIP harus dikawal, agar sesuai aturan partai demi menjalankan kebijakan kebijakan nya. Intervensi terlalu ringan, justu ini dikawal jangan sampai salah. Saya dan 9 anggota lain, Pak Acep, Edo, dan seluruh kader partai yang menjabat tingkat RT, RW, Kades harus dikawal oleh partai agar kerjanya berdasarkan ideologi. Ideologi falsafah negara yang diatur dalam konstitusi. Kami berbicara bangsa dan bernegara bukan yang lain. “ Ungkap Rana mantan Ketua DPRD Kuningan.

Disinggung Pasal 13 Perda yang dijadikan dasar penyegelan oleh Pemda, Rana Suparman menilai harus dilihat dari aspek sudut pandang nya perlu ada penyamaan persepsi bersama. Apakah bangunan yang harus ber IMB atau tidak. Lalu kalau ada riak riak dalam perjalanan selama ini, Rana menilai wajar ada pihak yang mencoba untuk berselancar.

Sementara Jubir Keluarga Paseban, Okky Satria Djati saat ditanya respon kedatangan mereka, menyatakan ada tanda pihak Bupati ingin membuka diri dan berkomunikasi. Kami tidak tahu sebelumnya mau ada kedatangan tamu, masa orang datang silaturahmi ditolak. Kedatangan Ketua DPD PDIP Jawabar, Pak Acep, Ridho, dan struktural pengurus dalam kapasitas kader partai.

“ Kami menghargai kedatangan pak Acep dan jajaran kader partai, dan diminta untuk menginventarisir aset aset komunal dan lainnya. Bagi kami penetapan dan pengakuan masyarakat AKUR dengan Perda, sesuai Permendagri harus dilakukan secepatnya. Kalo tidak ada titik temu, dan dibiarkan terlunta lunta, kami akan mengadu dan bawa hal ini ke Mahkamah Internasional, Kami akan terus mencari keadilan. “ Tegas Okky.

Bagi Rana Suparman selaku warga Kuningan, monumen batu Satangtung seperti monumen Tugu pahlawan, yang mempunyai ciri dan makna. Orang tua dulu memberikan proses pendidikan dengan simbolisasi, ini yang di pegang teman teman AKUR dengan simbolis yang dipegang budaya tersebut. Artinya tidak ada maksud dari Keluarga Paseban mengajak atau menggiring keyakinan yang berbeda untuk mengikuti keyakinan sama. Ajegkeun keyakinan masing masing, Hargaan keyakinan batur, tangtung keun didinya.

Rana Suparman mengingatkan jangan mudah bereaksi terhadap sebuah simbolisasi, justru kajian yang harus dilakukan. Kapan terbangun kesatuan yang utuh kalo kita ngambil kesimpulan dengan cepat tanpa kajian, ini yang harus ditinjau dar berbagai sudut.

Kata orang sunda modibaca modisaba, teu meunang dibasa lamun can dibaca, artinya kalau mau tau Batu Satangtung ya nanya dulu kesini,  kalau kita menyampaikan sesuatu yang belum disaba, pasti akan ada bohong nya.

“ Itu monumen batu Satantung bukan tempat pemujaan, ga mungkin Masyarakat Adat AKUR membangun untuk memuja persembahan. Kalo kita buka sejarah masa lalu, Ajeg Tantung Hirup Nanjung, Lain Ajeg Tangtung Hirup Nyandung. Nasihat orang tua sudah memberikan pendidikan yang luar biasa. Jangan dimentahkan oleh kondisi milenial. “ Papar Rana. (AS)

Editor : LIe

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *