8 Maret 2021

Dinamika Pembangunan Makam Sesepuh Sunda Wiwitan

2 min read

Kuningan, Jarrakposjabar.com – (Senin, 20/07/2020) Lika liku rencana pembuatan makam untuk sesepuh masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan Pangeran Djatikusumah dan Istrinya Ratu Emalia Wigarningsih di Curug Goong Desa Cisantana Kecamatan Cigugur harus menemui jalan terjal. Berbagai penolakan dan kontra opini masyarakat pun bermunculan.

Puncaknya terjadi hari Senin 20/07/2020 Satpol PP Kab Kuningan menyegel lokasi ini, karena disinyalir tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan. Menurut Girang Pangaping Adat Masyarakat AKUR Sunda Wiwitan Okky Satrio Djati dipilihnya Curug goong sebagai lokasi pemakaman, mengingat lokasi tersebut memiliki sejarah budaya khusus bagi Sunda Wiwitan.

“ Kakek pangeran Djatikusumah yaitu Pangeran Madrais tokoh perjuangan antikolonial pernah menduduki lokasi ini bersama pengikutnya.” Ujar Okky

Warga Desa Cisantana dan gabungan Ormas Islam menolak pembangunan Makam dan Tugu Satangtung Di Blok Curug Goong Desa Cisantana Kec. Cigugur (Senin, 20/072020)

Melansir dari berbagai media, sejak awal dibangun makam dan Tugu Satangtung, sudah mengundang kontroversi baik di masyarakat dan pemerintahan. Penolakan muncul dari warga desa Cisantana, MUI Desa Cisantana, dan berbagai elemen masyarakat luar desa.

Camat Cigugur Didin Bahruddin, menilai penolakan warga Desa Cisantana karena bentuk makam yang berbeda tidak lazim sesuai kebiaasan. Hal ini mengundang polemik dan tidak berkenan di masyarakat.

Sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Cisantana lebih keras, menolak tegas pembuatan bangunan mirip tugu atau patung di Curug Go’ong. Yang dikhawatirkan oleh mereka akan dijadikan tempat ritual pemujaan.

Menurut Cecep Murad, gelombang protes warga Desa Cisantana sudah memuncak pihaknya berupaya meredam, sehingga dilakukan upaya upaya legal dan dimusyawarahkan dengan semua unsur desa. “ Banyak warga desa yang menolak, kita rapatkan tingkat dusun, desa hingga kordinasi dengan pemda dan DPRD” Imbuh Cecep Murad Komisi Fatwa MUI Desa Cisantana.

Cecep mengakui tidak tau untuk apa dibuat bangunan awal nya, selang berjalan 2 bulan mendadak heboh ada makam yang tidak biasa mirip patung diatas lahan 1 hektar.

Disniyalir tidak memiliki izin yang lengkap, bangunan tersebut akhirnya mengundang reaksi aparat Satpol Pamong Praja Kab. Kuningan. Sehingga diambil tindakan langkah surat peringatan 1-3, puncaknya dilakukan penyegelan lokasi pada hari Senin 20/07/2020.

Melihat regulasi PERDA No 13 Tahun 2019, tentang penyelanggaraan izin mendirikan bangunan sebagaimana dimaksud,  pasal 5 huruf (g) bangunan bukan gedung meliputi konstruksi monumen berupa tugu, patung,  dan pada pasal 22 huruf (a) menyatakan setiap orang atau badan  dilarang mendirikan bangunan apabila tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). (AS)

Editor : LIe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *