BeritaDaerah

Setiap Bencana Yang Menimpa Bumi Dan Manusia Telah Tertulis Didalam Kitab Induk Lauhul Mahfuz, Sebelum ALLAH Menciptakannya

Cirebon. JarrakposJabar.com – Dalam suasana bulan suci Ramadhan yang sedang dihadapkan dengan suasana keprihatinan bencana global dunia saat ini akibat Corona covid-19, tentu kita harus saling bahu membahu untuk sama-sama dalam mengatasi pandemic yang sudah menjadi musuh dunia.

Kita tidak boleh saling menyalahkan siapapun, tapi saling bahu-membahu dan tolong-menolong, paling tidak memberikan sumbangsih saran dan pemikiran yang baik dan menyejukan hati semua pihak, sebagai sarana ibadah dengan membangun silaturahmi yang lebih peduli kapada sesama.

Persoalan Covid-19 adalah persoalan dunia, artinya persoalan bersama, bukan hanya persoalan Bangsa kita saja.

Dengan bencana ini Tuhan sedang menguji kesetiaan hamba-hamba-Nya, apakah dengan ujian ini hamba-hamba-Nya akan semakin setia kepada Tuhan nya dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya melalui do’a – do’anya dan bersyukur dalam bentuk tolong-menolong atau justru tambah aral dan jahat.

Allah akan melihat kesetiaan kita dari cara kita berpikir, berbicara dan bertindak, apakah tindakan kita mempunyai rasa empati terhadap korban bencana Corona civid-19, ataukah justru diskriminasi kepada sesama mahluk Allah.

Ibadah puasa kita akan lebih sempurna jika ditengah-tengah suasana keprihatinan ini kita mampuh memberikan tindakan nyata dalam bentuk, berdo,a, berusaha bersama untuk keluar dari musibah tersebut, dan gotong-royong tolong menolong dengan penuh kesadaran, kesabaran dan keikhlasan karena Allah.

Dalam kehidupan ini tidak ada satu bencanapun yang tidak terencana oleh Allah, sebab semua kejadian sudah tertulis di dalam kitab induk Lauhul Mahfuz , sebagaimana kutipan Al-Qur’an berikut ini  :

Qur,an Surat (Al-Ĥadīd) ayat 22 -23 :

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

Dengan ayat tersebut sudah jelas bahwa, bencana covid-19 yang terjadi saat ini sudah terencana oleh Allah sebelum Allah menciptakan, dengan tujuan untuk menjadikan  manusia bermental tangguh dengan rasa syukurnya, bukan mental yang mudah berduka cita dan mudah kecewa.

Duka cita adalah bentuk kecewa seorang manusia kepada Tuhannya. Kecewa adalah bentuk protes atau tidak terima kepada Allah yang telah menghendaki terhadap sesuatu yang terjadi.

Protes kepada Allah adalah bentuk kesombongan seorang manusia kepada Tuhannya. Dan di tegaskan oleh Allah bahwa, Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Allah juga berfirman bahwa, kita tidak boleh terlalu gembira dengan segala karunia yang telah Allah berikan kepada kita, sebab terlalu gembira adalah bentuk kelalaian seorang manusia kepada Tuhannya.

Terlalu gembira adalah bentuk bangga diri dengan apa yang telah dicapai atas karunia Allah, seolah yang telah diraihnya itu adalah hasil usahanya sendiri tanpa ada campur tangan Allah.

Terlalu gembira adalah masuk kategori bangga diri. Bangga diri adalah sombong kepada Allah. Dan Allah menegaskan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Jadi, jika Allah sudah menyatakan bahwa, bangga diri adalah sombong, maka kita harus mewaspadai diri kita sendiri, dengan cara banyak introspeksi guna mencari letak kesalahan kita sendiri, bisa jadi Allah sudah tidak suka dengan perilaku kita selama ini, sehingga diturunkan bencana covid-19 untuk membuat kita sadar dan bertaubat karena telah banyak melakukan dosa-dosa yang tidak pernah kita sadari.

Bukankah kita tau bahwa di dalam surat Al-Fatihah ayat 2 Allah SWT berfirman :

Al-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

Dalam ayat tersebut Allah ingin menegaskan bahwa, segala bentuk pujian itu bagiannya Allah, Tuhannya seluruh alam, bukan bagian mahluk-Nya.

Inilah mengapa Allah melarang kita berduka cita, kecewa, terlalu gembira atau bangga diri, sebab semua itu bentuk kesombongan dari manusia kepada Tuhanya.

Allah juga tidak suka kalau kita Bangga diri, sebab bangga diri adalah ; mengagung agungkan dirinya, memuji diri, padahal Maha Agung dg segala puji-Nya adalah pakaian/sandangan kebesaran-Nya. Hanya Allah-lah yang berhak di puji dan di banggakan dengan segala karya-Nya melalui ciptaan-Nya.

Terkait dengan Corona Covid-19 adalah cara Allah yang sedang menundukan seluruh akal dan hati hamba-hamba-Nya yang masih sombong, karena sering membanggakan dirinya, bisa jadi termasuk kita di dalamnya.

Bulan suci ramadhan adalah bulan penuh berkah dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya yang dengan suka hati ikhlas karena Allah, rela meninggalkan segala sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya, agar kita menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Tulisan ini hanya sekedar nasihat menasehati agar kita sama-sama mentaati kebenaran, dan sama-sama menetapi kesabaran dalam menghadapi covid-19 karena Allah. Semoga bermanfaat. Wasalam.

 

Penulis : Hadi

Wartawan JarrakposJabar.com, kontributor Cirebon.

 

Editor : IS

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close