(Doc. Jarrakposjabar)

JarrakposJabar.Com –┬áJakarta, Kamis (5/3/2020), Produk ekonomi kreatif lokal agar dapat bersaing dengan produk luar di negeri sendiri harus diciptakan regulasi – regulasi baru yang dapat mendukung ekosistem industri ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Whisnutama Kusubandio.

Dalam acara “Raker Kementerian Perdagangan” di Hotel Borobudur, Kamis (5/3/2020), Wishnutama Kusubandio yang menjadi narasumber dalam acara tersebut mengatakan, tantangan sesungguhnya dalam perkembangan ekonomi kreatif tanah air saat ini adalah ekosistem itu sendiri.

Foto : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Whisnutama Kusubandio (Doc. Jarrakposjabar)

“Sebelum bicara soal produk, kita harus dapat menciptakan ekosistem yang kondusif yang tentu saja dapat mendukung pemain lokal. Tujuannya agar produk lokal dapat menjadi pemimpin di pasar kita sendiri. Bahwa banyak aspek yang harus kita lindungi untuk memperkuat bahkan membuat produk-produk Indonesia berkompetisi di era sekarang ini,” ucap Wishnutama.

Ia mencontohkan layanan _e-commerce_ di Indonesia saat ini 70 persen di dalamnya diisi produk-produk ekonomi kreatif dari luar negeri. Sementara produk ekonomi kreatif lokal hanya mengisi tidak lebih dari 10 persen. Begitu juga di pasar _offline_ seperti di berbagai pusat perbelanjaan yang juga banyak diisi produk dari luar.

Padahal dalam pengembangan ekonomi kreatif di era digital saat ini, setelah produksi, ruang untuk distribusi, pemasaran dan pembayaran merupakan hal yang sangat penting. Akan tetapi pada kenyataanya justru ruang-ruang penting tersebut bukan berada pada posisi pemain lokal.

(Doc. Jarrakposjabar)

“Ke depan kita harus buat peraturan dan regulasi yang melindungi produk ekonomi kreatif domestik. Seperti soal pajak dan badan hukum dan atmosfir kompetisi yang lebih _fair_,” ujarnya.

Selain regulasi, pemerintah, kata Wishnutama, juga akan mengupayakan terjadinya transfer pengetahuan dan skill untuk pelaku kreatif di Indonesia.

Bahwa saat ini pelaku industri ekonomi kreatif sudah banyak yang memanfaatkan analisis big data serta _Artificial Intelligence_ sehingga mereka bisa memprediksi selera dan kemauan pasar, melakukan produksi secara presisi dari sisi jumlah dan waktu sehingga bisa tepat produk-produk mereka dipasarkan.

“Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita terus bangun agar industri kita dapat _survive_ juga dalam berkompetisi,” ujar Wishnutama.

Upaya yang sedang berjalan adalah mendorong hadirnya _creative hub_ yang untuk tahap awal dihadirkan di destinasi super prioritas dan akan direplikasi ke daerah-daerah lain yang juga memiliki potensi ekonomi kreatif.

(Doc. Jarrakposjabar)

Menparekraf Wishnutama juga mengatakan pihaknya akan mengembangkan bibit unggul _entrepreneurs_ ekonomi digital, terutama milenial dalam menciptakan karya kreatif.

“Kita harus merebut ekosistem ini, waktunya adalah sekarang dan tidak bisa ditunda. Saat pemahaman ada di luar kita, itu berarti kita tertinggal di belakang. Ini saatnya terus pelajari regulasi ini dan beri pemahaman pada pelaku industri kreatif dan UMKM terhadap masa depan ekonomi digital dan _offline_ ke depan,” kata Wishnutama.

(Doc. Jarrakposjabar)

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah perlindungan hak dan monetisasi Hak Kekayaan Intelektual serta insentif fiskal maupun non-fiskal yang kompetitif kepada sektor ekonomi kreatif prioritas.

“Ke depan banyak hal yang kementerian/lembaga yang bisa kita selaraskan sehingga bisa implementasi berbagai macam tujuan yang kita harapkan dapat meningkatkan produk-produk ekonomi kreatif yang sangat menunjang UMKM dan perdagangan di Indonesia,” kata Wishnutama.

Untuk mendukung terciptanya ekosistem tersebut perlu adanya regulasi-regulasi yang mendukung produk ekonomi kreatif yang sejatinya sangat berkaitan erat dengan UMKM. Sehingga benar-benar bisa menjadi masa depan penunjang ekonomi Indonesia.

(Doc. Jarrakposjabar)

Di sela-sela raker tersebut, Wishnutama juga melakukan penandatanganan MoU antara Kemenparekraf dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

(Doc. Jarrakposjabar)

Ruang lingkup dalam nota kesepahaman itu antara lain pemanfaatan produk dalam negeri dari usaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi di sektor pariwisata yang berdasarkan pada kearifan lokal yang bersifat berkelanjutan serta peningkatan nilai tambah dan daya saing produk dalam negeri dan dari usaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi di sektor pariwisata.

 

Penulis : Wins

Editor : Lle

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here