BeritaNasional

Mengenai NABARU, Terdapat Perbedaan Pendapat Para Ulama

JARRAKPOS – AS-SAMAHAH adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati.

Terutama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda.Baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama.

Atau lebih popular dikenal istilah TOLERANSI !

Konsep yang dikembangkan oleh ajaran-ajaran agama (termasuk Islam) ini tergolong mulia. Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas.

Terutama menyikapi NABARU atau Natal dan Tahun Baru ?

“ALLAH Azza Wajalla tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil.”

“Terhadap orang-orang yang tiada memerangimu.”

“Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.”

“Sesungguhnya ALLAH Azza Wajalla menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

“Sesungguhnya ALLAH Azza Wajalla hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu.”

“Orang-orang yang memerangimu.”

“Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.”

“Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.”

(Al-Qur’an Surah Al Mumtahanah Ayat 8-9)

Islam menekankan pentingnya TOLERANSI.

Yakni, dengan menghargai ibadah dan perayaan kalangan Agama lain. Namun toleransi dibatasi pada wilayah MU’AMALAH, dan bukan pada wilayah UBUDIAH.

Mengenai NABARU, terdapat perbedaan pendapat oleh para ulama.

Misalnya pendapat, Syekh Bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi.

Mereka sepakat mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat Natal.

Dasar pedoman dalil adalah Al-Qur’an Surah Al-Furqan Ayat 72.

Sedang ulama lainnya, seperti Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa.

Dan Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, serta Syekh Ishom.

Termasuk Majelis Fatwa Eropa dan Mesir, berpendapat boleh mengucapkan Selamat Natal.

Landasan dalil yang dipakai adalah Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah Ayat 8.

Fatwa Mejalis Ulama Indonesia (MUI), mengambil jalan tengah.

MUI menyerahkan sepenuhnya kepada ummat muslim, memilih salah satu pendapat ulama.

Saudaraku, makna hakikat TOLERANSI adalah MENGHARGAI KEBEBASAN BERAGAMA.

Sekaligus menjamin keamanan kepada setiap pemeluknya. Bukan sebatas membahas tentang boleh tidaknya mengucapkan Selamat Natal.

Bagi yang mengucapkan, jangan kemudian dijustifikasi KAFIR. Sebaliknya, bagi yang mengharamkan jangan dijustifikasi RADIKAL.

Islam dibangun oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW, melalui AKHLAK MULIA.

TIDAK ADA PAKSAAN MEMELUK AGAMA ISLAM.

IMAN HAKEKATNYA URUSAN ALLAH AZZA WAJALLA SEMATA.

“Lakum Diinukum Waliya Diini.”

 

Oleh : Elwa

Editor : Lle

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close